RWS FM, Radio Legendaris yang Tumbang di Hari Penyiaran Nasional

Ilustrasi Tutupnya RWS FM (Sumber: Gemini AI)

Sore itu, aku lelah sekali setelah pulang sekolah. Inginku hanya rebahan di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu populer kala itu. Lalu, kunyalakan radio di kamarku. Ku cari stasiun radio yang memutar lagu-lagu pop. Setelah beberapa kali memutar knob tuning radio, perhatianku tertuju pada satu stasiun radio. Dia tidak memutar lagu saat itu, hanya obrolan 2 orang penyiarnya, laki-perempuan. Mereka nampaknya sedang membacakan cerita, dan sekaligus bermain peran di cerita itu, persis seperti sandiwara radio. Keinginanku untuk mendengarkan lagu pop, memudar seketika. Obrolan, dan cerita dari 2 penyiar tadi sangat menarik dan lucu. Di akhir aku akhirnya mengetahui nama kedua penyiar itu, yang laki-laki bernama Temon Kicir-Kicir, dan yang perempuan bernama Limbuk. Mereka mengisi program Pesona Humor (Pamor) di stasiun radio bernama Radio Wijang Songko (RWS) 99 FM yang dipancarkan dari kota sebelah, Kota Kediri.

Sejak itu, RWS ku masukkan kedalam daftar stasiun radio favoritku. Khususnya program Pamor setiap pukul 3 sampai 5 sore. Program ini ternyata berbeda tiap harinya. Ada kalanya sepanjang program, Temon dan Limbuk hanya membacakan pesan dari pendengar dan menerima telpon. Adakalanya mereka bermain peran dan bercerita seperti tadi. Adakalanya juga banyak lagu-lagu pop yang diputar. Menarik sekali, dan tidak membosankan. Mulai dari situ, aku jadi suka RWS dan kudengarkan lebih sering. Salah satu program favoritku juga adalah Pak Piket. Kebetulan juga penyiarnya Temon Kicir-Kicir. Pak Piket disiarkan malah hari, mulai pukul 9 malam sampai 1 pagi. Menariknya, mulai pukul 9-11 malam lagu-lagu yang diputar khusus lagu Rhoma Irama, lepas itu baru lagu dangdut atau koplo lainnya. Program Pak Piket ini cukup ramai juga disukai banyak orang sebagai teman kala bekerja atau nongkrong malam hari.

RWS ternyata sudah mengudara selama 58 tahun lamanya. Dia telah melalui masa radio frekuensi AM hingga bertransformasi menjadi FM. Dulu katanya pernah bernama Pattimura FM, lalu entah tahun berapa kemudian berganti nama menjadi Wijang Songko. Radio ini berlokasi di Jalan Kilisuci. Aku sempat sekali lewat di jalan itu, dan tentu saja melewati depan kantor RWS. Ada rasa senang yang berbeda saat bisa lewat di kantor salah satu radio yang sering kudengarkan. Seperti saat melihat idola di depan mata. Namun, sayangnya radio legendaris itu harus mengakhiri siarannya mulai 1 April 2026 bertepatan dengan Hari Penyiaran Nasional. 

Ironi, sebuah radio yang sangat lama mengudara harus tumbang saat Hari Penyiaran Nasional, hari rayanya stasiun Radio. Banyak spekulasi yang beredar. Ada yang mengatakan karena faktor ekonomi. Ada juga yang berspekulasi karena faktor kepemilikan. Diketahui pemilik RWS ini sudah berusia sepuh, maka tidak mengherankan jika beliau ingin pensiun. Faktor kepemilikan ini menjadi narasi utama yang disampaikan oleh manajemen RWS. Namun, aku sendiri tidak percaya jika itu hanya jadi faktor tunggal. Faktor ekonomi menurutku bisa sangat dipertimbangkan. 

Kemajuan teknologi saat ini membawa perubahan besar pada tren dan media hiburan di masyarakat. Jika dulu televisi dan radio merupakan media hiburan utama, saat ini dengan adanya internet dan smartphone media hiburan menjadi bergeser. Internet dan smartphone lebih digemari orang karena sifatnya yang lebih fleksibel, dan mudah dijangkau saat ini. Orang-orang bisa memilih sendiri apa yang ingin dia baca, dengar, atau tonton. Plus, mereka bisa dengan mudah meninggalkan komentar kapanpun. Dengan media sosial, masyarakat bisa dengan mudah membagikan momen setiap saat. Mereka pun punya kesempatan untuk bisa menjadi selebriti baru jika konten yang mereka buat kemudian menjadi viral. Tren inilah yang menggeser media hiburan dari televisi dan radio ke smartphone dengan beragam aplikasinya terutama media sosial. 

Ramainya internet, smartphone, dan media sosial tentu saja melirik perhatian para pengiklan. Tak heran jika para pengiklan mengalihkan perhatiannya ke hal-hal tersebut, alih-alih tetap di TV atau Radio. Mungkin televisi masih punya pasar sendiri, karena sifatnya yang lebih nasional. Namun, agaknya radio punya nasib lain. Dengan jangkauan yang lebih terbatas, dan pendengar yang mulai berkurang, tentu pengiklan akan lambat laun meninggalkan media radio sebagai tempat mereka menaruh iklannya. Hal ini tentu dapat menurunkan pendapatan radio itu sendiri.

Perubahan hingga potensi besar penuruan pendapatan ini pasti sudah jadi perhatian stasiun radio selama ini. Mereka pun tentu membuat strategi baru dengan salah satunya merambah dunia sosial media. Fitur siaran langsung (live) pada media sosial jadi salah satu fitur yang sering digunakan sebagai strategi baru sebagai upaya agar tetap relevan sembari membidik pendengar dari generasi muda masa kini yang lebih jauh bisa mengundang para pengiklan masuk. Hal ini sangat bergantung pada bagaiamana stasiun radio tersebut bisa relevan dengan generasi saat ini karena jika hal ini gagal dilakukan, maka potensi pengurangan pendengar akan semakin besar. Dan hal ini yang aku asumsikan jadi salah satu faktor radio RWS akhirnya tutup siaran, disamping karena pemilik RWS yang menginginkan pensiun dan belum ada penerusnya. 

Akhirnya, peristiwa tumbangnya RWS di momen Hari Penyiaran Nasional ini harus dijadikan perhatian dan peringatan bagi industri Radio. Tantangan yang dihadapi makin lama main kencang. Tuntutan untuk selalu menjadi relevan harus dijadikan sebagai semangat bertahan hidup ditengah perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin kencang juga. Memang terkadang stasiun radio bisa saja punya domain pendengarnya sendiri, namun agar bisa terus bertahan maka tidak ada salahnya jika stasiun radio menyelaraskan dirinya dengan perkembangan saat ini. Semoga Radio tetap jaya diudara dengan menghadirkan alternatif hiburan bagi para pendengar setianya.

Komentar